Kisah Lukick dan Panakleak

Lukick dan PanakleakKesal timunnya masih dicuri oleh binatang dari hutan walaupun telah memasang orang-orangan (patung dari kayu yang diberi baju dan kemeja hingga mirip orang beneran) di sawah untuk menakut-nakuti mereka, Pak Tani berniat melakukan sedikit inovasi. Rupanya si pencuri telah mengetahui bahwa orang-orangan itu hanya patung belaka, sehingga tidak takut lagi. Bahkan si pencuri telah berani mengejek benda itu. Dengan meminjam teknik menangkap burung dengan pulut (getah pohon nangka yang sangat lengket) — Pak Tani melumuri orang-orangannya dengan pulut sambil berharap si binatang akan melekat pada orang-orangan itu.

Sungguh beruntung nasib Pak Tani dan sungguh malang nasib si binatang yang akhirnya benar-benar terjebak pada patung itu. Mulanya si binatang, yang ternyata adalah Sang Lukick mengejek orang-orangan dengan kata-kata, diikuti dengan menjulurkan lidah, memasang jari telunjuk di sisi kepala kanan-kiri dan diakhiri dengan menendang orang-orangan dengan kakinya yang kecil. “Gubraaak!” dan kaki Sang Lukick-pun melekat pada getah yang dilumurkan pada kaki orang-orangan. Usaha menyeruduk malahan membuat kepalanya ikut menempel. Kondisinya lebih parah lagi kala Sang Lukick memukul orang-orangan dengan ekornya. Jadilah tubuhnya melekat erat pada orang-orangan sawah.

Pak Tani yang pulang dari mencari kayu bakar di hutan bersiul-siul riang saat melihat si pencuri tak berkutik di sawahnya. “Tralala Trilili, Cihuiiii!” siulnya sambil membayangkan timunnya tidak akan dicuri lagi dan makan malamnya kali ini akan ditemani oleh sate Lukick bumbu merica. “Nyam nyam nyam, sate Lukick lezaaatt bok! serunya penuh kegembiraan seolah matahari tersenyum khusus untuknya.

Malang sungguh malang sang Lukick yang diikat dan dikurung di kurungan ayam sambil menunggu hidupnya berakhir di pembakaran sate. Tapi ulah Si Panakleak Gembala Pak Tani yang iri kala Sang Lukick membual bahwa dirinya sedang menunggu penjahit datang untuk mengukur baju untuknya dan Pak tani sedang mencari makanan lezat di hutan untuk disuguhkan padanya — telah menyelamatkan Sang Lukick. Si Panakleak Gembala yang menginginkan baju dan makanan “bohong-bohongan” tersebut bersedia bertukar tempat dengannya. Dia diikat dan ditempatkan di kurungan ayam, sementara Sang Lukick pergi lenggang kangkung sambil bersiul-siul riang.

Marah benar Pak Tani pada si Panakleak yang disebutnya seekor makhluk tolol dan tamak! Makhluk yang mudah ditipu-tipu oleh musuh Pak Tani. Makhluk yang tidak mampu berpikir logis dan kronologis dalam menilai sebuah fakta. Seharusnya si Panakleak gembala tahu bahwa Pak Tani telah berbulan-bulan memasang jebakan buat Sang Lukick, eee setelah ketangkap kok malah dilepaskan.

Tentu saja Si Panakleak Gembala yang merasa dirinya sangat kompeten dalam urusan menggembala kambing tidak terima. Disebutnya Pak Tani sebagai pemimpin yang tidak komunikatif. Pemimpin yang bekerja tidak profesional. Main tuduh sembarangan! Menilai Si Panakleak dari bidang yang bukan tanggung-jawabnya!. Mau menang sendiri. Mikir kepentingan diri sendiri. Nggak pernah mau mengembangkan anak buahnya! Hanya ingin mengunduh hasil dari tanah pertanian dan peternakan miliknya tanpa pernah mau berbagi informasi, apalagi melatih anak buahnya. Blah! blah!

“Aku kan tiap hari sibuk menggembala kambing. Mana mungkin aku tahu kalau Lukick itu hasil tangkapan. Pak Tani nggak pernah mengkomunikasikan bahwa dia punya proyek menangkap Lukick sih! Salah dia sendiri nggak pernah bagi-bagi informasi! Semua dia simpan sendiri seolah semua adalah rahasia!”

Kemudian Si Panakleak Gembala juga membela diri saat dituduh bahwa dirinya tamak karena menginginkan baju dan makanan yang diperuntukkan bagi orang lain.

“Aku punya pengalaman buruk tentang ketidakjelasan aturan main yang dibuat Pak Tani. Kemarin Si Kuda di tambatkan di pohon depan rumah, kemudian dia diajak ke kota dan pulang-pulang membawa sepatu baru dan pelana baru. Minggu kemarin Si Sapi ditambatkan di pohon yang sama, dan sorenya dia telah mengenakan lonceng baru. Bulan kemarin Si Kucing dikurung di kurungan ayam, dan sorenya dia telah mengenakan kalung dari emas. Sementara aku selalu dibiarkan ndlongop tanpa pernah diberi penjelasan. Mengapa mereka mendapat hadiah sementara aku dibiarkan saja bekerja keras tanpa pernah diperhatikan! Jangan salahkan aku bila merasa diperlakukan tidak adil!

Pak Tani terdiam mendengar kata-kata Si Lukick. Dia malu banget telah ketahuan dibantah oleh anak buah sendiri di hadapan belasan petani lain. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena semua yang dikatakan Si Panakleak Gembala benar belaka. Pak Tani tidak mau merusak reputasinya sebagai calon kuat kepala kampung dengan menghukum Si Panakleak Gembala. Bisa-bisa para calon pemilihnya lari ke calon lain karena takut kejadian yang menimpa Si Panakleak Gembala akan menimpa mereka

* Cerita diatas hanya fiktif belaka. Kesamaan nama, lokasi dan kejadian hanya sebuah kebetulan.

Tinggalkan Balasan